Mudjoko

Laki-laki, XX tahun

Kudus, Indonesia

SELAMAT DATANG DI BLOG PERJALANANKU, MY LIFE MY BLOG adalah blog yang menceritakan semua yang saya suka, Inspirasi, dan Motivasi.Selamat bergabung di blog saya, semoga bisa jadi motivasi dan inspirasi bagi anda yang membacanya Semoga Bermanfaat.

Visit My Blog :
=>tritunggaljayakudus.blogspot.com
=>tritunggaljaya-kudus.blogspot.com
=>tritunggal-jayakudus.blogspot.com
=>mudjoko.kds@gmail.com
::
Start
Mudjoko™ Kangmas Djoko
Shutdown

Navbar bawah

Search This Blog

Jumat, 04 Maret 2011

Relativitas Sipil – Militer

Sebenarnya, ada tidak fairnya juga berkembangnya alam berpikir umum bahwa konotasi idiomatik militer mengarah pada watak keresmian, kekakuan, bahkan sering lebih terpeleset pada kesan kekejaman, kebrutalan dan citra “inhuman”. Sementara idiomatik sipil dianggap mewakili keluwesan, kesantunan, senyum dan kearifan. Kalo ada orang sipil yang berkarakter kaku, kejam dan otoriter disebut militeristik. Kalo ada orang militer yang luwes, sopan, beradab, demokratis disebut militer yang sipil.

1299239339947162219

Kecurangan bahasa semacam ini mungkin memang ada sebab musabab sejarahnya. Sebagaimana penggunaan kata jantan dan betina juga mengandung kecurangan semacam itu. Kejantanan mewakili kehebatan, kejujuran, keberanian dan keterbukaan. Kebetinaan mewakili kecurangan, kelicikan dan ketertutupan. Laki-laki disebut betina kalau licik, wanita disebut jantan kalau berani dan jujur. Dalam psikologi bahasa semacam itu diskriminasi harkat kaum wanita menjadi keterlanjuran sejarah yang sangat sukar disembuhkan.

Pada tulisan inipun saya ternyata belum bisa membebaskan diri dari kenyataan bahasa yang menjadi milik baku paham nalar semua orang. Untuk masalah sipil militer saya terpaksa memakai bahasa sederhana semacam ini : “Tidak kurang lho orang sipil yang watak dan sifatnya militeristik. Banyak juragan-juragan, lurah, bahkan ulama yang bersikap seolah-olah dia adalah panglima perang kepada karyawan-karyawannya, rakyatnya, santrinya, yang semua dianggap prajurit sehingga harus patuh mutlak, dan diberlakukan sebagai manusia pekerja yang memiliki hak-hak dan batas kewajiban. Sementara jangan lupa banyak juga jendral, kolonel, kopral atau prajurit yang wataknya sangat sipil, santun, halus dan sangat manusiawi….” Sipil dan militer tidak bisa kita bandingkan sebagaimana membandingkan air dan batu atau antara baik dan buruk.

Ketika tahun 1998 sebagai seorang mahasiswa idealis saya ikut demonstrasi besar-besaran di Jakarta, melihat seorang tentara berpangkat rendah yang ditugasi berdiri di bawah terik matahari ketika berlangsung demonstrasi mahasiswa, tidak saya lihat lagi sebagai militer, tapi saya rasakan penderitaannya sampai selapar dan sekepanasan kayak apapun ia tidak berani beranjak dari tempatnya sebelum diperintahkan oleh komandannya.

Saya melihat ia sebagai manusia yang lemah dan sengsara, yang karena keterbatasan SDM-nya maka ia harus diejek-ejek oleh mahasiswa : “Heee, tentara tidak tamat SMA….!” Bahkan saya pernah ngobrol, dimana dia sesungguhnya ingin bersedia menjadi sarjana, direktur perusahaan atau KASAD, tetapi karena orangtuanya miskin ia tidak bisa sekolah tinggi, dan nasibnya terpuruk menjadi hanya seorang tentara kecil. Saya melihatnya sebagai semacam proletar sejarah yang dihina oleh penghuni kelas-kelas atas elite yang congkak kepada orang kecil.

Akhirnya, apakah kita akan menciptakan adegan sejarah masa depan dimana kuda-kuda liar fasis kejam dilawan dengan kuda yang sama liarnya. Ataukah dilawan oleh manusia. Dimana kuda itu ditunggangi oleh manusia, sampai akhirnya tak lagi menjadi kuda karena sama-sama kembali menjadi manusia.
Read More --►

Jangan Terlalu Serius Kawan, Ketawa Dulu.. !!

Cerita Sarju lagi….. hehehehe. Sarju merupakan salah seorang aktivis yang terkenal vokal di kalangan mahasiswa. Dia diundang oleh temennya di Jakarta untuk menggalang  demonstrasi menentang kenaikan BBM. Singkat cerita, Sarju bersama teman-temannya yang lain menggelar aksi demo. Belum sempat Sarju dan kawan-kawan melakukan aksinya dia sudah dihadang oleh beberapa orang tentara yang ditugasi untuk mengamankan aksi itu.

Salah seorang tentara bernama Sarmin membentak, “Hei.. apa kalian sudah punya ijin untuk aksi demo ini!”.

“Mas tentara, negara ini adalah negara demokratis, saya disini bukan demo tapi menyuarakan hati rakyat…..” jawab Sarju.

“Saya hanya menjalankan tugas, mana surat ijinnya…!” Sarmin sudah mulai nggak sabar.

“Negara ini kepunyaan rakyat dan saya sudah ijin sama rakyat, saya tidak butuh ijin lain…” Sarju masih ngotot.

“Plaakkk….” Sarmin menampar pipi Sarju, temen-temen Sarju tidak mau terima tapi karena mereka jumlahnya kalah akhirnya membubarkan diri.

Dua hari kemudian, karena tidak membuahkan hasil Sarju memutuskan untuk kembali ke daerahnya. karena sangu yang diberikan temennya hanya dikit, Sarju memutuskan untuk naik kereta api berkelas ekonomi. Di dalam kereta tidak disangka dia duduk disebelah Parmin, si tentara. Tapi Sarmin sudah tidak mengenalinya karena waktu aksi demo dua hari yang lalu Sarju mencoret-coret wajah dengan cat sekenanya.

Akhirnya empat orang duduk seperti tak saling kenal duduk saling berhadapan. Sarju duduk bersebelahan dengan Sarmin, si tentara. Sementara di depan mereka seorang nenek tua yang mengunyah sirih, disampingnya duduk cewek cantik, seksi, dan menggiurkan.

Kereta memasuki sebuah terowongan, dan suasana di dalam kereta menjadi gelap. Tipa-tipa terdengar suara ciuman yang kemudian disusul dengan “Plaakkk…!”  suara pipi ditampar.

Si nenek berkata dalam hati : “Kasian nih anak perawan di sebelahku. Jadi obyek pelecehan seksual.”

Si cewek seksi berkata dalam hati : “Kasian yang mencium nenek di sebelahku. Pasti dikiranya yang dicium itu aku.”

Sarmin, si tentara sambil mengusap pipinya berkata dalam hati : “Sial….! Yang nyium siapa, yang kena tampar siapa.”

Sarju hanya tersenyum dan berkata dalam hati : “Kapan lagi bisa nampar tentara. Nggak tau dia, kalau aku mencium tanganku sendiri.”
Read More --►

Rabu, 02 Maret 2011

Tuan, Tolong Botolnya Ditutup Lagi!!

Anda tahukan bagaimana kondisi negara kita saat ini? Banyak sekali  kebijakan nasional atau lebih tepat kita sebut sebagai ketidakbijakan nasional yang belum mampu untuk mengangkat rakyat dari jurang ketidakadilan. Tapi kita sebagai rakyat paling tidak masih bisa bersyukur, kita masih punya kaum pejuang kelas menengah yang memperjuangkan hak-hak kita sebagai komunitas bangsa ini. Wacana yang berkembang, mereka menemukan belum berlangsungnya dengan sungguh-sungguh prinsip-prinsip berbangsa dan bernegara seperti keadilan sosial, terakomodasinya hak asasi manusia di berbagai lapangan hidup. Terdapat ketimpangan sosial, kecurangan sistem yang diberlakukan.  Rakyat yang pada hakekatnya merupakan pihak yang paling berhak atas negara, alam dengan kegala kekayaannya, belum memperoleh segala sesuatu yang semestinya harus mereka peroleh, jika negara ini diurus dengan benar dan adil.

Sangat mengkhawatirkan dan membuat hati pedih bahwa situasi itu mungkin merefleksikan bahwa kita kini sudah sampai pada watak kolektif yang tidak sehat. Egoisme, egosentrisme, kecenderungan monopoli, sudah dirintis menjadi budaya sehari-hari, tidak hanya dalam pergaulan politik, tapi juga merambah ke berbagai bidang. Budaya itu, karena sudah berlangsung dalam jangka waktu yang sangat lama sudah merasuk dan mendarah daging bahkan sudah merupakan satu-satunya referensi sejarah yang dikenali oleh generasi demi generasi yang lahir, sudah menjadi gejala peradaban. Dan jika sudah menjadi sebuah peradaban, kita butuh sekian dekade untuk membebaskan diri darinya.

Banyak sekali pejuang-pejuang rakyat yang sekarang sudah pasrah, atau terpaksa pasrah karena tidak mampu merubah sejarah peradaban unik  di negeri ini. Saya akan berikan sebuah ilustrasi menarik bisa juga lucu untuk menggambarkan kondisi ini. Seorang aktivis LSM bernama Sarju (anda masih ingat kan dengan tokoh ini? Dia akan menjadi tokoh saya pada tulisan-tulisan saya selanjutnya) sudah mulai bosan dengan teriakan-teriakan “Hentikan Ketidakadilan” yang sering dia lontarkan ketika memimpin sebuah aksi demonstrasi anti korupsi dan kolusi. Sarju berada posisi pasrah memikirkan kondisi negara ini yang tak kunjung berubah. Untuk menenangkan hati, si Sarju lebih memilih menghabiskan akhir pekannya dengan memancing di laut.

Sudah dua jam Sarju memancing, tapi si ikan tak kunjung mau mamakan umpannya. Ketika ia melamun memikirkan aksi apa yang bisa membuat negara ini berubah,tiba-tiba dia melihat sebuah botol yang terapung dan tertutup rapat. Sarju kemudian mengambil botol itu, karena penasaran, Sarju membuka tutup botol, lalu tiba-tiba dari dalam botol keluar asap yang selanjutnya menebal dan menjadi jin raksasa yang mengambang di depan Sarju.

1299076939550822246

Karena tidak biasa melihat kejadian aneh Sarju hanya diam, jin yang ada di depannya berkata, “Terimakasih tuan, tuan telah membebaskan saya. Untuk itu tuan silahkan mengajukan tiga permintaan, saya akan mengabulkannya.

Sarju berpikir sejenak kemudian menjawab, “Baiklah jin, saya ingin tiga kejadian besar terjadi di negeri saya Indonesia ini.”

“Apa itu tuan?”

“Pertama saya ingin nilai tukar rupiah di negeri saya ini kembali menjadi Rp 2.000 per 1 dollar US. Kedua, saya mau semua uang hasil korupsi baik oleh swasta ataupun pejabat pemerintah dikembalikan kepada rakyat, dan semua pelaku kejahatan diadili. Ketiga, saya ingin hukum benar-benar bisa ditegakkan di negeri saya ini”.
Sang jin berpikir  sejenak, kemudian menggeleng-gelengkan kepala. Pelan-pelan jasadnya kembali menjadi asap lalu berkumpul masuk ke dalam botol itu kembali. Dari dalam botol si jin berseru :

“Tuan, tolong botolnya ditutup lagi!!”
Read More --►

KUHP Pasal 111

Sarju dan Marni adalah pemuda aktivis LSM “Masa Bodo”. Keduanya sangat kompak dan selalu bersama-sama. Banyak yang bilang mereka pacaran dan sebagainya. Tapi keduanya cuek saja.

Sehabis kegiatan amal yang mereka lakukan, Sarju mengajak Marni makan-makan dan keliling kota. Kemudian mereka duduk di mobil sambil bercerita macam-macam dan mendengarkan musik.


Keduanya hanyut dalam suasana malam. Mereka kehabisan bahan omongan. Tiba-tiba, Sarju meletakkan tangannya di atas paha Marni. Tetapi Marni hanya diam saja, beberapa detik kemudian tangan Sarju bergerak beberapa centi ke atas. Marni menggumam, “Mmmmm…. Sarju, ingatlah KUHP pasal 111.”

Mendengar perkataan itu, walaupun tidak tahu atau lupa akan isinya, Sarju langsung menarik tangannya, ia merasa disadarkan seketika itu juga.

“Maafkan saya.” Kata Sarju.

“Tak apa….”

Akhirnya mereka pulang. Di rumah, Sarju langsung masuk kamar dan mengambil buku KUHP yang menjadi pegangan wajib anggota LSM “Masa Bodo” membuka pasal 111, isinya “………….teruskanlah, tindakanmu sudah benar.”
Read More --►

Selasa, 01 Maret 2011

Emangnya Kamu Aja Yang Punya Kakek?

Keterangan :  diharuskan membaca artikel ini sampai selesai

Suatu ketika ada seorang penjual topi yang berjalan melintasi hutan. Cuaca saat itu sangat panas. Ia lalu memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah sebuah pohon besar. Sebelum merebahkan diri, ia lemetakkan keranjang berisi topi-topi dagangan di sampingnya. Beberapa jam ia terlelap dan terbangun oleh suara-suara rebut. Hal pertama yang disadarinya adalah bahwa semua topi dagangannya telah hilang. Kemudian ia mendengar suara monyet-monyet di atas pohon.

Ia mendongak ke atas. Betapa terkejutnya ia melihat pohon itu penuh dengan monyet. Dan, semua monyet itu mengenakan topi-topinya. Penjual topi itu terduduk dan berpikir keras bagaimana caranya ia bisa mendapatkan kembali topi-topi dagangannya yang sekarang sedang dibuat main-main oleh monyet-monyet itu.


Ia berpikir dan berpikir, dan mulai menggaruk-garukkan kepalanya. Lalu ia melihat monyet-monyet itu ternyata menirukan tingkah lakunya. Kemudian, ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya. Dan monyet-monyet itupun melakukan hal yang sama.

Aha….! Ia pun mendapat ide. Kemudian ia membuang topinya ke tanah, dan monyet-monyet itu juga membuang topi-topi di tangan mereka ke tanah. Segera saja si penjual itu mengumpulkan dan mendapatkan kembali semua topi-topinya. Iapun melanjutkan perjalanan.

Lima puluh tahun kemudian, cucu dari penjual topi itu juga menjadi seorang penjual topi juga dan telah mendengar cerita tentang monyet-monyet itu dari kakeknya.

Suatu hari, persis seperti kakeknya, ia melintasi hutan yang sama. Udara sangat panas, ia beristirahat di bawah pohon yang sama dan meletakkan keranjang berisi topi-topi dagangannya di sampingnya. Sekali lagi, ketika terbanguan ia menyadari kalau monyet-monyet telah mengambil semua topi-topinya.

Ia pun teringat akan cerita kakeknya. Ia mulai menggaruk-garukkan kepala, dan monyet itu menirukannya. Ia melepas topinya dan mengipas-ngipaskan ke wajahnya, monyet-monyet itu masih menirukannya. Nah, sekarang ia merasa yakin akan ide kakeknya.

Kemudian ia melempar topinya ke tanah. Tapi kali ini ia terkejut, karena monyet-monyet itu tidak menirukannya dan tetap memegangi topi itu erat-erat. Kemudian, seekor monyet turun dari pohon, mengambil topi yang dilemparkan oleh cucu pedagang topi itu, lalu menepuk bahunya sambil berkata, “Emangnya kamu aja yang punya kakek?
Read More --►

Tuhan Tahu Tapi Dia Tidak Bilang Siapa-Siapa

Hal-hal mengenai keharusan akurasi informasi, sehatnya komunikasi, kacaunya “tembung jare” (katanya) mengingatkan bahwa kehidupan manusia selalu terdiri atas kelompok-kelompok, aliran-aliran, petak-petak juga tembok-tembok yang membatasi kebenaran di antara mereka. Manusia dianjurkan untuk berendah hati satu sama lain. Tidak gampang “ngarani”, tidak gampang menuduh orang lain. Standar pertimbangannya adalah : Wong jumlah rambut kita sendiri saja kita tidak sanggup menghitung. Atau istilah Jawanya : Wong githok (punggung) kita sendiri saja kita ndak bisa lihat….. mosok gampang ngarani (menuduh) orang begini dan begitu.

Artikel yang akan saya tulis ini bukan sebuah berita yang informatif, sifatnya hanya hiburan, hiburan bagi teman-teman kompasioner yang lain yang mungkin mengalami kejenuhan seperti saya sekarang ini. Cerita ini saya dapat ketika tadi siang jalan-jalan ke toko buku Gramedia, saya membaca sebuah anekdot menarik yang menurut saya sangat lucu. Kira-kira begini ceritanya, pada jaman dulu (jangan ditanya kapan) hidup seorang pemuda bernama Sarju. Sarju sangat rajin sekali mengikuti pengajian, setiap kali dia bertemu dengan teman atau orang lain dia sangat menyombongkan dirinya kalau dia sangat mengerti agama.


Selain rajin mengikuti pengajian, Sarju juga rajin merawat kebun mangga yang ada di belakang rumahnya. Kebetulan kebun mangga Sarju sedang berbuah lebat sekali. Sayangnya banyak tangan usil yang ngambil mangga tanpa izin alias nyolong. Sarju kemudian menjaga kebun mangga itu siang malam, selama dijaga tidak ada yang ngambil. Tapi begitu ditinggal, banyak sekali mangga yang hilang.

Suatu hari Sarju menangkap basah seorang anak kecil yang mencuri mangga, lalu Sarju berteriak : “Hei….! Dasar maling kecil. Ayo turun dari pohon mangga saya.”

Si  anak tadi belum juga turun. Sarju makin berang. “Awas kamu ya, nanti saya bilangin bapak kamu baru tahu rasa….!!”

Tetapi si anak bukannya segera turun malah dia mendongak ke atas pohon sambil berkata, “Pak, cepetan turun, kita sudah ketahuan.”

Sarju sudah tidak tahan lagi ini sudah keterlaluan, kemudian dia putar otak, teringat akan ucapan seorang ustad bahwa Tuhan Maha Mengetahui, ia lantas menaruh kertas di pohon mangga. Kertas itu bertuliskan : TUHAN TAHU SIAPA YANG MALING MANGGA. Dengan begitu dia yakin tidak ada yang berani mengambil mangganya.

Keesokan harinya, tetap saja masih ada mangga yang hilang. Ketika memeriksa pohon mangga, tulisan itu sudah bertambah : TUHAN TAHU SIAPA YANG MALING MANGGA TAPI DIA TIDAK BILANG SIAPA-SIAPA.
Read More --►

Download Midi, Terbaru Gratis | Free Midi Indonesia | Free Midi Band

Buat rekan sobat yang ingin mendownload midi band gratis terlengkap tak ada salahnya memilih opsi download yang satu ini !!!, berikut nama band yang terdaftar :
9 BAND, ACHA, ADA BAND, AFGAN, AGNES MONICA, AHMAD DHANI, AISAH, ALDA, ALEXA, ANANG, ANDIEN, ANDRA N BACKBONE, ANDRE HEHANUSA, ANGGUN C, ANGKASA BAND, ANIMA, ARI LASSO, ARMADA, ASBAK BAND, ASTRID, AUDI, AURA KASIH, BASE JAM, BBB, BEBY ROMEO, BENING, BUNGA CITRA LESTARI, CILAPOP, CINTA LAURA, CIQITA MEIDI, CLUB, COKLAT, D.O.T, D'BAGINDAS, DELON, DERBY ROMERO, DEWA 19, DEWI DEWI, DEWI SANDRA, DEWIQ, DIRLY, D'MASIV, DRIVE, ECAOTEZ, ECAPEDE BAND, ELEMENT, ELLO, FIRMAN, FIVE M, GEISHA, GIGI, GITA GUTAWA, GLENN, GLENN F, GODBLESS, GOMBLOH, GRUVI, HARVEY, HELLO, HIJAU DAUN, IKA PUTRI, IRWANSYAH, J ROCK, JAMRUD, JIKUSTIK, JINGGA, KAHITNA, KANGEN BAND, KAPTEN, KRISDAYANTI, KERISPATIH, KERTAS, KINGKONG, KOTAK, KUBURAN, KUNGPOW, LETTO, LUCKY, MAHADEWI, MAHKOTA, MARCELL, MATAHARI, MATTA BAND, MAYA, MBAH SURIP, DUO MAIA, MELLY GUSLOW, MEMES, MULAN, NAFF, NAIF, NICKY ASTRIA, NIDJI, NUMATA, OLGA SYAHPUTRA, ONCE, OPPIE, PADI, PASTO, PETERPAN, PINKAN MAMBO, POTRET, PRISA, PROJECT P, PUTIH BAND, RADJA, RATU, REVPUBLIK, RIDHO RHOMA, ROSSA, RUTH S, SABILLA, SALJU, AISHITERU, SAMSON, SAYKOJI, SEVENTEEN, SHANTI, SHE, SHELLA ON7, SHERINA, SLANK, ST 12, SULE, SYAHRINI, T 2, TANGGA, TERE, TERRY, THE CANGCUTTERS, THE POTTER, THE RAIN, THE TITANS, THE VIRGIN, TIKET, TIPE X, TITHO, TITI DJ, TITI KAMAL, TOMPI, TQLA, UNGU, USSY, UTHA LIKUMAHUA, VAGETOS, VIDI ALDIANO, VIERRA, VINA, WALI, WARNA, YOVIE N NUNO, 86 BAND, ALEXA KEY, ARTELA, BONE PAPUTUNGAN, DENSA, INIAKU BAND, KRISYANTO, LALA KARMELA, LARS, LYLA, PENA, NAGAZ, PINOCCHIO, SIGIT WARDANA, SUPERPOP, TAHTA, ZEWEX, SINTA & JOJO

Silahkan memberi donasi anda dengan hanya meng-klik iklan dibawah ini !!!!.



* Untuk mendownload Software silahkan klik disini Download
Read More --►
Energy Saving Mode
Gunakan Mouse untuk Keluar Mode Energy Saving